|
Kompor Biomassa UB.03 dan Biskuit Lele dalam IISAREX, 16-19 Februari 2011
Jakarta - Dua inovasi dukungan INOTEK yaitu Kompor Biomassa UB.03 dan Biskuit Lele ditampilkan
sebagai bentuk inovasi teknologi untuk post-disaster dalam Indonesian International Search & Rescue Expo (IISAREX)
yang diselenggarakan pada tanggal 16-19 Februari 2011 di Jakarta Convention Center.
Kedua inovasi ini merupakan aplikasi dari Program INOTEK Peduli untuk membantu korban bencana Gunung Merapi.
INOTEK telah mengirimkan bantuan Biskuit Lele pada 15-16 Nopember 2010 lalu dan saat ini sedang menggalang donasi 1000 Kompor Untuk Merapi.
Dalam ajang yang dibuka pada 16 Februari 2011 oleh Menteri Perhubungan tersebut INOTEK hadir di stand pameran milik Kementerian Riset dan Teknologi,
sebagai hasil dari koordinasi dan kerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi, Bidang Pendayagunaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Menteri Perhubungan, Freddy Numberi sendiri berkesempatan mengunjungi stand Kementerian Ristek dan menyatakan bahwa inovasi dukungan INOTEK bermanfaat untuk daerah bencana.
Pada 17 Februari 2011, Ketua Palang Merah Indonesia, Jusuf Kalla, juga mengunjungi stand Kementerian Ristek
dan mendapat penjelasan mengenai inovasi dukungan INOTEK.
Beliau yakin bahwa kompor biomassa cocok untuk daerah terpencil, dan menuturkan pengalamannya mengirim 500 unit kompor minyak
tapi tidak dapat digunakan karena masyarakat di sana mengalami kesulitan mendapatkan minyak tanah.
kembali ke atas
Suritech Menerima Penghargaan Rintek 2010
Jakarta – Sejumlah industri nasional mendapatkan penghargaan di dua kategori cukup bergengsi yakni keberhasilan mereka dalam Rintisan Teknologi dan Desain Terbaik Indonesia.
Dua jenis penghargaan tersebut disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung kepada wakil industri bersangkutan. Acara berlangsung di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Senin (20/12/2010).
Penghargaan Rintisan Teknologi diberikan kepada industri yang telah merintis riset dan berhasil mengembangkan teknologi hingga diproduksi dan dikomersialkan guna mendorong peningkatan kemampuan teknologi industri. Tahun ini ada 7 perusahaan yang menerimanya yakni:
1. PT Hartono Istana Teknologi, untuk invensi crystaline television dengan flat crystaline loudspeaker.
2. PT Sarimas Ahmadi Pratama, untuk quick imitation melalui reverse engineering berbagai mesin perkakas dengan teknologi CNC.
3. PT Edwar Technology, untuk invensi SonaCTx(NDT): pemindai 3D tabung CNG berbasis ultrasonik.
4. Divine Eternier Water Indonesia, untuk invensi air minum embun dalam kemasa.
5. PT Cahaya Barumas Sejahtera, untuk invensi teknologi alat ukur telemetering menghitung kandungan minyak dan gas bumi.
6. PT Pura Barutama, untuk invensi kompor biomas siklon.
7. INOTEK (PT Samudera Teknik Mandiri) untuk invensi mesin pemisah daging dan tulang ikan.
kembali ke atas
Sosialisasi Kompor Biomass UB-03 di Kabupaten Semarang
Pada tanggal 28 November 2010, diadakan sosialisasi penggunaan kompor biomass di Desa Pucung, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah. Desa ini berjarak kurang lebih 12 km dari Kota Salatiga. Bertempat di rumah ketua Koperasi Pucung Maju, acara ini dihadiri oleh sekitar 86 anggota dari tiga koperasi pemberdayaan perempuan, yakni Koperasi Pucung Maju, Koperasi Amanah dan Koperasi Lestari.
Dalam acara ini, didistribusikan sebanyak 350 buah kompor Biomass UB-03 hasil inovasi dari Dr. Nurhuda, salah seorang inovator yang mendapat fasilitasi inkubasi bisnis dari Program RAMP Indonesia, yang datang langsung untuk menjelaskan cara penggunaan kompor ciptaannya ini. Acara juga dihadiri oleh perwakilan dari LSM Punden, Most Indonesia dan dari INOTEK. Seluruh 350 kompor tersebut dibiayai oleh berbagai donatur yang dikelola oleh KOPERNIK, sebuah LSM yang berbasis di Bali. Untuk mendistribusikan kompor ini, KOPERNIK bekerjasama dengan Punden, sebuah LSM lokal yang berkantor di Nganjuk, Jawa Timur. Setiap warga Desa Pucung yang ingin mendapatkan kompor ini, harus terlebih dahulu menjadi anggota koperasi, dengan iuran pokok yang bervariasi mulai dari Rp 20,000. Sedangkan 2 minggu sekali, pada setiap pertemuan rutin, para anggota tersebut harus membayar iuran sukarela sejumlah minimum Rp 1,000.
Para anggota koperasi perempuan ini yang umumnya adalah ibu rumah tangga merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan kompor biomass ini, karena pada umumnya mereka sudah terbiasa menggunakan kompor berbahan baku biomass berbentuk kayu bakar. Potongan ranting kayu, bonggol jagung kering dan bahan biomass lainnya banyak tersedia disekitar pekarangan rumah mereka di desa tersebut. Namun selama ini mereka selalu menggunakan kompor pawon atau tungku yang boros kayu bakar. Dengan adanya bantuan kompor Biomass UB-03 ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup warga desa karena mereka dapat menghemat penggunaan kayu bakar, mengurangi penebangan pohon dan memiliki dapur yang minim polusi udara karena asap yang dihasilkan sangat sedikit, bahkan tidak menghasilkan asap sama sekali bila bahan biomass telah sepenuhnya menyala.
kembali ke atas
Obelt Thresher Mendapat Perhatian Menteri Pertanian
Inovasi alat perontok padi Obelt Thresher ditampilkan dalam acara Farmer Field Day 2010 atau biasa disebut juga
Hari Temu Lapang Petani 2010 yang dilaksanakan di Laboratorium Lapangan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor,
Darmaga-Bogor pada tanggal 1 – 3 Oktober 2010.
Acara ini diisi serangkaian kegiatan yaitu pameran dan gelar teknologi, sarasehan petani,
dan peluncuran varietas tanaman terbaru oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia, Ir. H. Suswono, MMA,
pada puncak acara di hari ketiga yang dihadiri pula oleh sekitar 400 petani dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
dan beberapa daerah lainnya.
Obelt Thresher dengan moto Merontokkan Padi Serta Merontokkan Masalah Anda menarik perhatian para petani
dan khususnya Menteri Pertanian yang cukup antusias menanyakan penjelasan seputar pengembangan, keunggulan,
dan pemasaran inovasi yang dikembangkan oleh Niko Daniar, Prahana Mahawan Putra, Yuyun Lutfianita, dan Shohib Qomad Dillah.
Dengan hasil penyusutan perontokan padi yang sangat rendah (1.25%) dibandingkan metode lainnya,
Obelt Thresher diminati oleh para petani dan Dinas Pertanian beberapa daerah.
kembali ke atas
Sosialisasi Alat Perontok Padi Obelt Thresher, di Bantul, Yogyakarta
Pada tanggal 15 Juli 2010, Inovator alat Obelt Thresher (OT), Niko Daniar, didampingi rekan satu timnya, Putra dan Shohib,
mengadakan acara sosialisasi kepada kelompok tani Ngudi Mulyo I di Dusun Sarirejo, Desa Singosaren, Kec. Banguntapan,
Kab. Bantul, Yogyakarta.
Acara ini dihadiri oleh sekitar 23 petani anggota kelompok dan bertujuan untuk memperkenalkan alat perontok padi OT.
Acara juga dihadiri oleh Andy Pradjaputra (Direktur Eksekutif Yayasan Inotek), Giovano Kundono (Staf Program Inotek)
dan Rezal Kusumaatmadja (Konsultan The Lemelson Foundation untuk Indonesia).
Acara tersebut dimulai dengan sambutan dari Bapak Martodinomo selaku ketua kelompok tani dan Inotek, dilanjutkan dengan presentasi alat OT yang mencakup latar belakang inovasi, desain dan penyempurnaannya, fungsi alat, cara bekerja, pemutaran video, peragaan dan diskusi. Acara sosialisasi ini mendapat tanggapan positif dari para petani yang dengan antusias mendengarkan presentasi ini, mengajukan pertanyaan dan saran.
Beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada tim OT diantaranya adalah dimana alat ini dapat dibeli, harga, biaya pengiriman ke lokasi dan perawatan. Beberapa petani langsung menyatakan ketertarikannya untuk membeli alat perontok padi Obelt Thresher ini karena dianggap lebih mudah pengoperasiannya, lebih murah dan menguntungkan karena lebih cepat dan susut gabah yang sedikit. Beberapa anggota lainnya menyampaikan keyakinan mereka akan efisiensi Obelt Thresher dan akan menyampaikan informasi mengenai OT kepada anggota-anggota kelompok tersebut yang berjumlah 40 orang dan para petani di desa-desa sekitarnya.
kembali ke atas
|